Minggu, 13 Juni 2021

Doa Rasulullah Agar Menjadi Manusia Yang Berecahaya


Rasulullah SAW memberikan teladan doa minta cahaya dalam hidup sehari-hari. Diceritakan Abdullah bin Abbas bahwa dia pernah tidur di dekat Rasulullah.

Tiba-tiba, Rasulullah bangun lalu bersiwak (sikat gigi) dan berwudhu. Selanjutnya, beliau membaca surah Ali Imran ayat 190-200. Setelah selesai, Rasul shalat dua rakaat. Baik berdiri, ruku, dan sujud semuanya dilakukan dalam waktu yang panjang.

Selesai shalat dua rakaat, Rasul tidur lagi. Hal itu dilakukannya sampai tiga kali, sehingga ada enam rakaat. Semuanya dilakukan dengan bersiwak, berwudhu, dan membaca ayat yang sama. Setelah itu, Rasul menunaikan shalat witir tiga rakaat. Seusai azan dikumandang muazin, keluarlah Rasulullah untuk shalat Subuh.

Beliau berdoa:

 

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا وَاجْعَلْ عَنْ يَمِيْنِى نُورًا وَعَنْ شِمَالِى نُورًا. وَاجْعَلْ فِي لَحْمِى نُورًا وَ فِي دَمِى نُورًا. وَاجْعَلْ فِي شَعْرِى نُورًا و فِي بَشَرِى نُورًا.  اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا

 “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya dan di dalam lisanku (juga) cahaya. Jadikanlah di dalam pendengaranku cahaya dan di dalam penglihatanku (juga) cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku (juga) cahaya. Jadikanlan dari atasku cahaya dan dari bawahku (juga) cahaya. Jadikanlan dari kananku cahaya dan dari kiriku (juga) cahaya. Jadikanlah di dalam dagingku cahaya, di dalam darahku cahaya. didalam rambutku cahaya dan dikulitku juga cahaya. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR Bukhari Muslim).

Dalam doa tersebut jelas sekali bahwa yang pertama disebut adalah hati. Hati yang bercahaya yang letaknya berada di bagian pusat tubuh manusia adalah hati yang bersinar dan memberi efek terang pada seluruh tubuh.

Dalam doanya, Rasulullah juga menyebutkan lisan, pendengaran, penglihatan, belakang, depan, atas, dan bawah agar semuanya bercahaya. Intinya, menjadi manusia yang benar-benar bercahaya. Manusia yang hatinya bercahaya akan merasakan luas dan lapang di dalam dadanya.

Rasulullah bersabda, “Ketika cahaya telah masuk di dalam hati maka (hati itu) akan menjadi luas dan lapang.” Para sahabat bertanya, “Apa tandanya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-inabah ila dar al-khulud, wa at-tajafa‘an dar al-ghurur, wa al-isti’dad lil maut qabla nuzulih.”  (HR At Tirmidzi). 

Yakni, kembali ke negeri keabadian (akhirat), menjauh dari negeri ketertipuan (dunia), dan bersiap-siap menjemput kematian sebelum datang kematian itu. 

Menjadi manusia bercahaya memang tidak mudah. Selain harus membersihkan hati dari segala kotorannya, setiap pancaindra juga harus digunakan dengan cara yang baik. Yaitu, dengan menghiasi tubuh dengan segala bentuk tutur kata dan perilaku yang baik. 

Dengan makna lain, jika cahaya identik dengan segala kebaikan, manusia yang bercahaya adalah manusia yang baik lahir dan batinnya. Keduanya memancarkan cahaya kebaikan yang memberikan petunjuk bagi manusia lainnya keluar dari segala kesesatan. Dia bisa menjadi panutan bagi manusia lain yang ingin keluar dari kegelapan dan kesesatan.

Kebalikan dari cahaya adalah gelap atau kegelapan yang identik dengan kejelekan, kejahatan, dan kesesatan. Manusia yang tidak memiliki atau kehilangan cahaya akan hidup dalam kegelapan karena jauh dari kebaikan dan kebenaran. Jauh dari iman, jauh dari sifat dan perilaku yang baik. Ia tidak mampu memberikan petunjuk dan tentu dia tidak dapat dijadikan panutan atau pemimpin.

 

 

Rabu, 09 Juni 2021

Dzikrul Ghofilin

DZIKRUL GHOFILIN Artinya : Dzikirnya / ingatnya orang-orang yang lupa dengan ALLOH ,Untuk orang-orang yang senang/ ingin bisa dikumpulkan dengan para kekasih ALLOH ( auliya’ ) dan orang-orang sholeh di akherat kelak,Dari judul yang begitu indah dan mempesona maka siapa orangnya yang tidak senang ikut masuk golongannya?…..Akan tetapi sebelumnya harus tahu persisnya dulu tentang hal ikhwalnya wirid DZIKRUL GHOFILIN ini apa dan bagaimana,betul apa hanya mainan yang menjadi kemusykilan dll,Maka marilah dihayati dalam tulisan ini,semoga kita diberi Hidayah dan Taufiq menuju kebenaran dan semoga tulisan ini oleh ALLOH diberi kebenaran dan bisa bermanfaat yang sebanyak-banyaknya dengan lantaran berkah dan derajat para insan agung ( auliya’ ),Amin……..

Jika sudah begitu kita perlu menghubungkan diri dengan dengan para Auliya’ ,Ulama’ dan Sholikhin baik yang masih hidup atau yang sudah wafat (al Markhumin wal Maghfurin ) dengan cara berziarah,berhadiyah Fatikhah dll,Kemudian kita juga berusaha memperbaiki dan meningkatkan pribadi kita masing-masing dengan cara mengetahui dan meniru perjalanan orang-orang agung tsb,Andaikata kita betul-betul mau mengaitkan diri dan memperhatikan perjalanan beliau-beliau,INSYALLOH kita akan menemukan jalur untuk kita berjalan yang semestinya menuju ALLOH, Karena memang merekalah para pewaris Nabi yang oleh ALLOH dipercaya penuh untuk segenap ummat manusia didunianya dan beri fasilitas bisa memberi syafaat kelak diakherat,Dan semoga kita sekalian diakherat nanti dikumpulkan menjadi golongannya,bisa masuk surga tempat yang abadi dengan bisa melihat ALLOH Tuhan yang maha perkasa dan maha bijaksana,Amin yaa Robbal ‘alamin.

Wirid DZIKRUL GHOFILIN itu isinya berupa bacaan-bacaan yang untuk beribadah,munajat/ berbisik,menghadapkan diri dan berdo’a dihadapan ALLOH dzat yang maha kuasa dengan merendahkan diri,merasa serendah-rendahnya,tawadhu’,khudu’,tadhorru’ ,khusyu’,Adalah merupakan suatu senjata yang ampuh yang sangat kita butuhkan untuk meminta apa saja.

Adapun pokok isinya yang paling banyak adaah bacaan /membaca surat Al Fatikhah seratus kali ( 100 x ) yang sebetulnya bacaan ini sangat tidaklah asing dijalankan oleh orang-orang agung ( auliya’ ) zaman dahulu,Dan juga beberapa hadiyah Fatikhah kepada para leluhur orang-orang agung yang menjadi panutan kita,Terus disempurnakan atau diselingi dengan Asma’ul khusna,Istighfar,Sholawat dan Tahlil.

Membaca Al Fatikhah seratus kali ( 100 x ) adalah amalan-amalan atau wiridnya Al maghfurlah simbah Kyai H.Abdul khamid Pasuruan Rokhimahulloh ( beliau dimasa hidupnya adalah orang yag sangat masyhur kewaliannya dan menjadi jurusan / tempat kembali ummat sangat tidak asing,Dan setelah wafatnya maqomnya selalu ramai diziarahi)..Dan wiridnya beliau Al maghfurlah KH.Achmad Qusyairi ( pasuruan )bin KH.Shiddiq Jember pengarang kitab Tanwirul Hija ( nadzomnya SafinatunNaja ) kitab ilmu Fiqh yang sangat terlaku sebagai pelajaran anak-anak kita di bumi jawa khususnya.Lalu oleh mbah KH.Abdul khamid amalan-amalan ini diharapkan supaya dilanjutkan oleh panuan kita KH.Khamim Jazuli ( Gus Miek ) putra KH.Utsman Jazuli dari PONPES “AL FALAH” ploso Mojo Kediri Jawa Timur ( seorang yang terbiasa berkomunikasi dengan para Auliya’illah ) dan terkenal sangat unik perilakunya,serta masyhur kewaliannya dan menjadi panutan / tempat kembali orang banyak diantara kita semasa hidupnya,Dan kemudian dikembangkan oleh KH.Achmad Shiddiq Jember Rois ‘Am Jam’iyyah Nahdhotul ‘Ulama’ ( th.84- 94 ),Jadi DZIKRUL GHOFILIN adalah hasil rangkuman orang mulya ( ‘indalloh ) tiga itu.

Lalu do’a diakhir Dzikrul Ghofilin yang berupa syi’irnya Syaikh Achmad bin Sumaith : SA-ALTU ROBBII SHIKHKHATAL QOLBI WAL JASAD dst Ini disamping amalannya KH.Achmad Qusyairi juga amalannya Khadhrotusy syaikh KH.KHOLIL Bangkalan Madura gurunya para guru tertua kita yang agung-agung seperti KH.Shiddiq Jember,KH.Manaf/ ‘Abdul karim Lirboyo Kediri ( semoga para beliau mendapatkan limpahan Rakhmat dari ALLOH dan memberkahi kita semua fiddun-ya wal-akhiroh ). Tentang mewiridkan membaca Fatikah 100 x ini sebetulnya tidak asing dijalankan/diamalkan oleh para salafush sholih sejak zaman dahulu,buktinya banyak kitab-kitabnya para ‘Ulama’ yang menerangkan seperti syarahnya kitab Ikhya’ ( karya Imam Ghozali ),Khazinatul -Asror,Inarotud Duja,Syamsul Ma’arif.Demikian pula asal usulnya orang yangmempunyai resep pun banyak juga,Adapun yang kita amalkan dan kita ikuti dari guru kita ialah menurut resepnya Imam Al Ghozali Ra.

Adapun cara membacanya juga bermacam-macam seperti keterangan dari kitab-kitab tsb : Setiap ba’da sholat maktubah ( setalah sholat fardhu lima waktu ) dibaca 20 x 20 x ,atau Setelah sholat shubuh 30 x, Dzuhur 25 x ,’Ashar 20 x , Maghrib 15 x dan ‘Isya’ 10 x ,Dua thoriqoh ini baik semua tinggal kita pilih yang mana,atau…. menurut mbah KH.Achmad Qusyairi al Markhum Ijazah dari gurunya dari Imam Ghozali begini:Membaca Fatikhah dengan Basmalah dan Aminnya,setelah sholat shubuh 21 x , Dzuhur 22 x ,’Ashar 23 x , Maghrib 24 x dan ‘Isya’ 10 x ( jumlah 100 x ) lalu setiap selesai membaca Fatikhah ba’da sholat supaya membaca Du’a-ul fatikhah yang masyhur ciptaan Wali qutub Al Khabib ‘Abdulloh al Khaddad Ra 3 x , Maka dari tiga cara tersebut silahkan mana yang disukai ( yang penting cara membacanya yang benar / memakai ilmu Tajwid atau lebih jelasnya silahkan belajar Al Qur’an ( terutama Al Fatikhah) kepada guru yang betul-betul mumpuni ).

Resep dari Imam Ghozali seperti diatas asalnya berupa Syi’iran / Qosidah ‘Arobiyah yang banyaknya 13 bait yang arti ringkasnya kurang lebih sbb : “Siapa orangnya yang ingin beruntung,kedatangan maksud tujuannya dan kecukupan rizqinya maka langgengkanlah membaca Faatikhtal Kitab 100 x setiap ba’da Isya’, Shubuh, Dzuhur, ‘Ashar dan Maghrib,maka akan lekas tercapai tujuannya,naiknya pangkat,kemulyaan,kewibawaan,kemudahan dan kegembiraan,hidup ni’mat sepanjang zaman,aman dari kemlaratan dan kesulitan dari terkena urusan dan tipudaya jelek,tidak butuh merepotkan orang lain ,menjadi periang menghadapi kesulitan dan bahaya dan mendapat pertolngan sewaktu-waktu membutuhkan”

Amalan wirid Dzikrul Ghofilin ini pertama dirintis oleh Al Mukarrom KH.Achmad Shiddiq di daerah sekitar kabupaten Jember jawa Timur dan terus berkembang sampai sekarang,mulai dari sebelum beliau dijadikan sebagai Rois ‘Am Jam’iyyah Nahdhotul Ulama’ ( NU ) dan berjalan sampai akhir hayat beliau,Maka kepada segenap warga NU hendaknya mema’lumi adanya dengan arti tidak menyalahi faham tentang kegiatan ini dan kelanjutannya.Kemudian didaerah Kediri juga dirintis oleh Al Mukarrom KH.Khamim Jazuli ( Gus Miek ) dan berkembang sampai sekarang ,Dan lama kemudian oleh beliau diciptakanlah kegiatan umum berupa Istima’ul Quranil karim yang dimulai tahun 1986 M. dengan nama “JANTIKO” berpusat di Kediri yang kemudian di ganti dengan nama “MANTAB” ( yang berarti orang yang bertaubat ).

Kegiatan beribadah tersebut dimaksudkan untuk kegiatannya siapa saja tidak pandang aliran yang ingin memperbaiki kejelekan pribadinya ,bertaubat dan meningkatkan kepribadiannya masing-masing dengan tekun beribadah kepada ALLOH Swt,semata. Alkhamdulillah kegiatan-kegiatan ini sampai saat ini berkembang dengan baik ke daerah-daerah tanah Jawa khususnya bahkan sudah sampai ke tanah Sumatra ,malasya dan Singapura. Akhirnya semoga ALLOH Swt berkenan melestarikan dan memberi berkah yang sebanyak-banyaknya dan memperbaiki serta membangkitkan segenap hamba-hambaNYA,Dan kita semoga besuk di hari qiyamat dikumpulkan bersama-sama orang-orang agungnya ALLOH Amiin Yaa Robbal ‘Alamin.